Thursday, April 7, 2016

Kekerasan bukan solusi dalam mendidik anak

Sebuah pengalan cerita nyata yang sering kita jumpain atau kita dengar bagaimana orang tua mendidik anak dalam kehidupan sehari-hari nya.
"Bid…ayo mandi! Disuruh mandi saja kok malas amat!" bentak ibu Abid (7) seraya menyeret paksa anaknya yang sedang asyik bermain.
"Fatma…jangan dekati kompor itu! Bahaya, tahu!" Bentak ayah Fatma yang memergoki putrinya (4) sedang mengutak-atik kompor minyak.
Ketika bocah kecil itu menangis mendengar bentakan ayahnya, sang ayah malah kembali membentak, "Heh…diam!" Si kecil pun semakin ketakutan.
Membentak anak , sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian orang tua. Cara yang buruk dalam mendidik anak , saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidakpatuhan, orang tua memang sering dibuat jengkel. Secara refleks, karena emosi, orang tua sering bermaksud 'menasihati', tapi diucapkan dengan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih sering dilakukan oleh orang tua yang temperamental.
Pertanyaannya, "efektifkah menasihati anak dengan bentakan?"
Tentu tidak, sebab kalau anak terlalu sering dibentak, maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, tertutup, bahkan pemberontak. Ia pun bisa menjadi temperamental dan meniru kebiasaan orang tuanya, suka membentak. Dalam Nikah edisi Juni 2006 sudah dibahas cara menasihati anak secara efektif (Menegur Perilaku, Menghargai Pelaku). Pada edisi kali ini, akan dipaparkan beberapa akibat bila anak terlalu sering menerima bentakan. Selain itu, akan dibahas pula bagaimana kiat menumbuhkan kepatuhan.
SALAH KAPRAH ORANG TUA
Seringkali orang tua baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak. Bukan mencegah, mengarahkan, dan membimbing sebelum kesalahan terjadi. Seharusnya orang tua mempertimbangkan tingkat perkembangan kejiwaan anak, sebelum membuat aturan. Jangan menyamakan anak dengan orang dewasa. Orang tua hendaknya menyadari bahwa dunia anak jauh berbeda dengan orang dewasa. Jadi, ketika menetapkan apakah perilaku anak dinilai salah atau benar, patuh atau melanggar, jangan pernah menggunakan tolok ukur orang dewasa. Harus diakui, orang tua yang habis kesabarannya sering membentak dengan kata-kata yang keras bila anak-anak menumpahkan susu di lantai, terlambat mandi, mengotori dinding dengan kaki, atau membanting pintu. Sikap orang tua tersebut seperti polisi menghadapi penjahat. Sebaliknya, orang tua sering lupa untuk memberikan perhatian positif ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan susu dan makanannya, serta memberesi mainannya. Padahal seharusnya, antara perhatian positif dengan perhatian negatif harus seimbang.
PENGARUH TERHADAP ANAK
Anak-anak yang sering diberi perhatian negatif, apalagi dengan teguran keras atau bentakan, akan mudah tertekan jiwanya. Kemungkinan ia bisa berkembang menjadi anak yang:
- Minder
Bila anak selalu dicela dan dibentak, dan tak pernah menerima perhatian positif saat ia melakukan kebaikan, maka ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri atau minder. Akan tertanam dalam jiwanya bahwa ia hanyalah anak yang selalu melakukan kesalahan, tidak pernah bisa berbuat kebaikan atau menyenangkan orang lain. Akibatnya, ia sering ragu-ragu atau tidak percaya diri untuk melakukan atau mencoba sesuatu karena takut salah. Misalnya, ia jadi tidak pede untuk mengaji atau membaca Al-Quran, gara-gara orang tuanya selalu membentaknya bila mendengar bacaannya salah.
- Cuek/ tidak peduli
Anak yang selalu dibentak juga bisa berkembang menjadi anak yang cuek dan tidak peduli. Akibat sudah terlalu sering menerima bentakan, ia malah jadi apatis, tidak peduli. Ia pun sering mengabaikan nasihat orang tuanya. Mungkin saat dibentak atau dimarahi ia terlihat diam mendengarkan, tapi sesungguhnya kata-kata orang tuanya hanya dia anggap angin lalu. Masuk ke telinga kanan lalu keluar lewat telinga kiri.
- Tertutup
Orang tua yang temperamental dan suka membentak, tentu akan menakutkan bagi anak. Ya, anak menjadi takut pada orang tuanya sendiri, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang tertutup. Ia tak pernah mau berbagi cerita dengan orang tuanya. Buat apa berbagi kalau nanti ujung-ujungnya ia akan disalahkan? Dengan demikian, komunikasi antara orang tua dan anak tidak bisa berjalan lancar. Hal ini tentu berbahaya, karena bila menghadapi masalah dan hanya disimpan sendiri, jiwa anak bisa sangat tertekan.
- Pemberontak/ penentang Anak yang bersikap menentang bisa digolongkan dalam 3 tipe. Pertama, tipe penentang aktif. Mereka menjadi anak yang keras kepala, suka membantah dan membangkang apa saja kehendak orang tua. Mereka marah karena merasa tidak dihargai oleh orang tua. Untuk melawan jelas tak bisa, karena ia hanya seorang anak kecil. Maka ia pun berusaha menyakiti hati orang tuanya. Ia akan senang bila melihat orang tuanya jengkel dan marah karena ulahnya. Semakin bertambah emosi orang tua, semakin senanglah ia. Kedua, tipe penentang dengan cara halus. Anak-anak ini jika diperintah memilih sikap diam, tapi tidak juga memenuhi perintah. Sebagaimana Abid yang disuruh mandi oleh ibunya, tapi tak juga mau beranjak dari tempatnya bermain. Saat ia ditinggalkan sendiri di kamar mandi pun, ia tidak segera mandi, malah bermain air atau kapal-kapalan. Ketiga, tipe selalu terlambat. Anak seperti ini baru mengerjakan suatu perintah setelah terlebih dahulu melihat orang tuanya jengkel, marah, dan mengomel atau membentak-bentak karena kemalasannya.. Misalnya Angga yang belum mau beranjak dari tempat tidurnya bila belum dibentak atau diomeli ibunya.
- Pemarah, temperamental dan suka membentak Anak sering meniru sikap orang tuanya. Bila orang tua suka marah atau 'main bentak' karena sebab-sebab sepele, maka anak pun bisa berbuat hal yang sama. Jangan heran bila anak yang diperlakukan demikian, akan berlaku seperti itu terhadap adiknya atau teman-temannya.
LALU BAGAIMANA CARA YANG BAIK MENANAMKAN KEPATUHAN DALAM DIRI ANAK?
Setelah jelas bila bentakan tidak efektif untuk menumbuhkan kepatuhan, bahkan berpengaruh negatif bagi kepribadian anak, lalu bagaimanakah cara yang baik untuk menumbuhkan kepatuhan?
- Beri penjelasan pada anak
Jelaskan pada anak dengan bahasa yang ia mengerti, mengapa suatu hal diperintahkan dan hal lain dilarang. Jangan sekali-sekali memberi keterangan dusta dalam hal ini.
- Perintahkan sebatas kemampuannyaPerintah di luar kesanggupan dan kemampuan anak justru bisa menyebabkan krisis syaraf (neurotic) dan buruk perangai. Ada pepatah mengatakan, "Jika engkau ingin ditaati, maka perintahkanlah apa yang dapat dipenuhi." Sebaiknya perintah itu dibagi-bagi dan tuntutan pelaksanaannya pun bertahap. Untuk mengetahui sampai di mana batas kemampuan anak sesuai perkembangan usianya, diperlukan pengetahuan tersendiri. Sebaiknya orang tua memahami perkembangan anak ini.
- Tidak berdusta atau menakut-nakuti
Kadang orang tua mengatakan akan membelikan ini atau itu jika anak mematuhi perintahnya, tapi ternyata setelah anak patuh, orang tua tidak menepati janjinya. Itu berarti orang tua berdusta, dan bisa jadi anak tidak akan percaya lagi pada orang tuanya. Kedustaan seperti ini harus dihindari. Selain itu, orang tua juga sering menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang seharusnya berguna baginya. Itu dilakukan karena ingin anaknya segera memenuhi perintah mereka. Misalnya menakut-nakuti anak dengan dokter, suntikan dan sebagainya. Ketakutan anak pada hal-hal tersebut bisa terbawa hingga ia dewasa.
- Jangan bertentangan dengan naluri anak
Gharizah atau naluri adalah kekuatan terpendam dalam diri manusia yang mendorongnya untuk melakukan beberapa pekerjaan tanpa berlatih terlebih dahulu. Janganlah orang tua melarang anak bermain, atau membongkar dan memasang sesuatu. Jangan pula melanggar kebiasaan anak kalau tidak ingin mereka menggunakan jerit tangis sebagai senjatanya. Lebih baik gharizah itu diarahkan sedemikian rupa sehingga anak bisa mengatur dirinya sendiri. Misalkan diberi perintah, "TPA nanti mulai ba'da asar lho, sekarang kan udah setengah tiga. Adik udah aja ya mainnya, dilanjutin besok aja, sekarang mandi dulu, kan udah mau adzan…". Ungkapan itu tidak melarang anak bermain, dan tidak melanggar kebiasaan mereka bermain di tengah hari. Pemberian 'masa terbatas' ini dimaksudkan agar anak bisa mengatur jadwal kegiatannya sendiri, dan akan sangat menolong untuk melatih anak disiplin waktu. Selain itu mereka merasa dianggap mampu untuk mengatur dirinya sendiri tanpa harus didikte begini dan begitu.

Mendidik Anak Tanpa Kekerasan

Ketika seorang anak melakukan kesalahan, tak jarang orangtua memberinya hukuman fisik untuk tujuan pembelajaran. Dengan menerapkan hukuman-hukuman fisik secara ketat, perilaku anak diharapkan dapat lebih terkendali, dan anak menjadi lebih patuh kepada orangtua. Hukuman fisik dinilai sebagai suatu sarana agar anak dapat merenung dan tidak lagi melakukan kesalahan-kesalahan. Tapi, benarkah hukuman fisik itu efektif bagi pendidikan anak?
Dalam menjalani kehidupan bersama anak, orangtua kerapkali dihadapkan pada situasi untuk bersikap atau merespon secara tepat terhadap kesalahan-kesalahan anak.
Respon orangtua terhadap kesalahan anak, disadari atau tidak, sering menggunakan kekerasan fisik maupun non-fisik sebagai bentuk hukuman. Kekerasan fisik dilakukan dengan memberi rasa sakit pada tubuh anak agar ia jera. Kekerasan non-fisik dilakukan dengan cara memberi anak rasa takut dan ketidak-nyamanan pada anak.
Ketika seorang anak kedapatan memukuli adiknya, ada orangtua yang merasa perlu untuk memberi pukulan kepada si anak sebagai hukuman. Tujuannya, ingin memberi pelajaran bahwa memukul orang lain itu tidak boleh, karena bisa menyakitinya. Atau ketika seorang anak bersikap kurang ajar atau kasar kepada orangtua, pukulan kadang juga digunakan. Pesannya, agar anak tak lagi mengulangi perbuatannya.
Ancaman dan kekerasan verbal juga kerap digunakan sebagai cara mendidik anak, dan digunakan sebagai sarana efektif bagi orangtua untuk meraih kewibawaan dan kekuatan dari rasa takut anak. Banyak orangtua beranggapan, bahwa ketakutan anak pada hukuman fisik, akan berdampak pada sikap anak hingga mudah dikendalikan. Selain itu, agar anak juga tunduk kepada keinginan orangtua.
Sayangnya, sadar atau tidak, para orangtua cenderung lebih banyak menuntut anak untuk melaksanakan sikap maupun keterampilan-keterampilan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Anak lebih banyak diminta melakukan apa yang orangtua ‘katakan’, bukan apa yang mereka ‘lakukan’.
Misalnya, untuk menghentikan teriakan anak yang mengganggu, orangtua lantas membentak anaknya untuk diam. Atau, seorang ibu yang tangkas merampas mainan yang sedang diperebutkan kedua anaknya sambil berkata, “Kan ibu sudah bilang, jangan berebut mainan. Sekarang, mainan ini Ibu ambil!” Atau, seorang bapak yang memukul anaknya yang tidak sopan karena memukuli ibunya.
Dengan contoh kejadian-kejadian ironis di atas, manakah yang akan mudah direkam dan dicontoh oleh anak, apakah perkataan atau perilaku (sikap) orangtuanya? Apakah anak akan berhenti melakukan kesalahan-kesalahan dengan kesadaran, ataukah karena alasan ketakutan? Adakah manfaat yang diperoleh ketika orangtua menghukum anaknya dengan cara kekerasan?
Dalam sebuah penelitian di Skotlandia (Republika Online , 22/10/2008) diungkap, delapan dari sepuluh orangtua mengaku tidak menemukan manfaat dari penggunaan kekerasan dalam mendidik anak. Hanya sedikit orangtua yang menganggapnya memiliki dampak positif.
Dengan hukuman keras, mungkin anak dapat diajarkan untuk disiplin dan bisa belajar dari kesalahan. Tapi di sisi lain, anak yang diperlakukan penuh kekerasan, rentan menghadapi trauma, dendam, bahkan kelak suka melakukan kekerasan pula.
Kontra-Produktif
Secara psikologis, kekerasan yang digunakan dalam mendidik anak, akan menjadi kontra-produktif, karena ada beberapa hal negatif yang timbul, sebagai reaksi dari kekerasan mereka dapatkan:
Pertama, kebencian. Anak akan menjadi tidak mudah berkomunikasi dengan orangtua, dan berusaha untuk selalu menghindar.
Kedua, dendam. Secara negatif, dendam akan memicu anak untuk melakukan kekerasan yang sama kepada orangtua bila memiliki kesempatan, atau ia akan melampiaskannya kepada orang lain.
Ketiga, pemberontakan. Mendidik anak dengan kekerasan, bukan membuatnya akan menuruti keinginan orangtua, tapi anak biasanya akan menentang dan melakukan hal yang berlawanan dari kehendak orangtuanya. Bahkan, sifat-sifat kemunafikan bisa muncul dalam diri anak, karena mungkin ia tak berani melakukan kesalahan di hadapan orangtua, tapi di belakang mereka, si anak akan berbuat semaunya.
Keempat, trauma. Si anak akan menjadi pendiam dan bersikap defensif akibat kekerasan yang dideritanya.
Secara biologis, sifat dari kekerasan dan hukuman, akan ditanggapi anak sebagai suatu ancaman. Otaknya akan beroperasi secara defensif jika berada dalam tekanan dan ancaman. Pada tahap ini, peningkatan aliran darah tubuhnya akan menuju ke bagian otak, yang menjadi pusat mempertahankan dirinya. Sedangkan pada bagian otak yang menjadi pusat pemikiran, terjadi penurunan aliran darah.
Keadaan semacam ini, membuat otak berpusat pada modus mempertahankan diri, sehingga kurang mampu untuk membuat perencanaan, mendeteksi pola, menerima informasi, kreatif, mengklasifikasi data, dan melakukan pemecahan masalah (Becky A. Bailey, 2004, h. 252).
Kekerasan v.s Konsekuensi
Mengingat dampak negatif penggunaan kekerasan dalam mendidik anak, lalu adakah cara yang lebih efektif bagi anak untuk belajar dari kesalahan, kekeliruan, keteledoran, dan kekhilafan yang dilakukannya?
Penulis Kids Are Worth It , Barbara Coloroso menuturkan bahwa anak bisa saja belajar dari kesalahan dan mengubah perilakunya tanpa kekerasan, bahkan tanpa hukuman. Semakin sebuah hukuman ditingkatkan, justru tak akan mengajarkan anak sesuatu yang sifatnya membangun.
Menurut Barbara, disiplin yang bermakna memberikan pengertian dalam hidup, merupakan kata kunci bagi anak untuk belajar dari kesalahannya. Sebab, disiplin memiliki empat kelebihan dibandingkan dengan hukuman. Yaitu dapat menunjukkan anak tentang perbuatan salah yang dilakukannya, membuatnya memahami kesalahan, memberikannya jalan untuk penyelesaian, dan menjaga harga diri anak. Berbeda dengan hukuman yang cenderung akan menjatuhkan harga diri anak (Republika Online (24/12/2008).
Sementara Becky melihat, anak dapat belajar dari kesalahannya dengan cara bukan diberi hukuman, tapi dengan ‘konsekuensi’. Hukuman didasarkan pada penilaian orangtua tentang mana yang benar dan salah, baik dan buruk. “Konsekuensi lebih didasarkan pada kesadaran diri yang diperoleh melalui perenungan terhadap pengalaman hidup si anak,” tulis Becky.
Perbedaan antara hukuman dan konsekuensi, terletak pada pengendalian atas diri anak. Pada hukuman, kendali anak sepenuhnya berada di bawah kontrol orangtua, sedangkan pada konsekuensi, anak diberikan wewenang terhadap diri dan bertanggungjawab atas pilihannya.
Secara konseptual, konsekuensi dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, konsekuensi alamiah. Yaitu terjadinya sesuatu dengan sendirinya, sesuai dengan hukum sebab-akibat. Contoh, konsekuensi alamiah bagi seorang anak yang berlari di lantai licin adalah terjatuh. Atau, anak yang suka mengganggu teman-temannya akan menerima konsekuensi alamiah dijauhi teman-temannya.
Kedua, konsekuensi normatif, yang dibuat berdasarkan campur tangan orangtua tentang nilai-nilai yang hendak diajarkan kepada anak. Pada bagian ini, orangtua menetapkan norma, nilai, dan aturan yang hendak diajarkan kepada anak. Ketetapan norma tersebut dilakukan dengan cara memberi anak pilihan-pilihan, sehingga ia memiliki informasi itu sebelumnya. Dengan begitu, anak akan memahami tentang konsekuensi dari pilihannya, belajar dari kesalahannya, belajar memperbaiki, dan belajar bertanggungjawab.
Dengan konsekuensi, anak diberi wewenang menentukan pilihan. Orangtua berfungsi sebagai pembimbing, agar anak menentukan pilihan yang baik dan benar. Jika anak, secara sengaja atau tidak, melakukan pilihan yang salah, konsekuensi-konsekuensi yang telah diberitahukan sebelumnya harus diterapkan dengan tegas.
Sebagai ilustrasi: anak diminta oleh orangtua untuk meletakkan krayon pada kotaknya setelah dipakai, tapi anak tidak memperhatikan. Suatu ketika si anak kebingungan mencari krayonnya yang tidak ada di kotak, ada beberapa sikap yang mungkin dilakukan orangtua:
Pertama, marah dan memberi hukuman. Orangtua akan memarahi anaknya, dan membiarkannya mencari sendiri krayon yang hilang itu sebagai hukuman. Sikap semacam ini tidak menyelesaikan masalah anak. Sebab membiarkan anak sendirian mencari krayon, akan membuatnya frustasi dan merasa terasing.
Kedua, permisif dan toleran, atau memanjakan anak. Orangtua akan mencarikan atau meminta orang lain untuk mencarikan krayon yang hilang. Bila tidak ketemu, orangtua langsung memberi solusi akan membelikannya lagi. Sikap ini akan menghalangi anak untuk belajar dari kesalahannya, sehingga anak tak akan pernah tahu tentang keteledorannya.
Ketiga, empati dan membantu mencarikan solusi. Dalam situasi seperti ini, orangtua akan memahami perasaan anak yang sedang kebingungan, lalu bersama anak ia akan mencari krayon tersebut. Dengan cara ini, anak akan mengalami pembelajaran tentang kelalaian yang telah dilakukan akibat pilihannya sendiri. Dari pengalaman itu, diharapkan anak tak lagi teledor, dan mampu menjadi pribadi yang bertanggungjawab.
Prinsip dari ‘konsekuensi’ adalah mengajarkan anak untuk bersikap disiplin. Anak diberi kesempatan untuk memilih, meski itu pilihan yang salah, dan mau memperbaiki kesalahannya dengan penuh tanggungjawab. Anak-anak sungguh dapat belajar memeriksa perilaku mereka sendiri, menyadari akan kebutuhan, prioritas diri, dan masalah mereka. Yang paling penting, anak akan memiliki kemampuan menyelesaikan konflik (masalah) mereka sendiri dengan cara yang lebih baik.

Cekidot http://qalammag.wordpress.com/artikel/artikel-anak/mendidik-anak-tanpa-kekerasan/

Wednesday, November 28, 2012

Air terjun "banyu tiban" Manyaran

Air terjun "Banyu Tiban" merupakan sebuah obyek wisata alam yang terletak di kecamatan Manyaran kabupaten Wonogiri. Tepatnya disebelah barat daya kabupaten Wonogiri, disebuah plosok desa Ngluwur, Kepuhsari, yang berbatasan dengan Yogyakara.

Sunday, March 11, 2012

Cara Sistem Operasi (SO) mengendalikan proses sistem aplikasi sehingga mudah digunakan user

Pengendalian Sistem Operasi
Sistem operasi mengendalikan sistem komputer lainnya dan memberikan ijin aplikasi-aplikasi untuk menggunakan secara bersama-sama sumberdaya dan peralatan komputer. Karena  ketergantungannya,  masalah  yang  timbul  dalam  sistem  operasi  ini  dapat menimbulkan masalah-masalah lain pada seluruh pengguna dan aplikasinya.

Sunday, March 4, 2012

Sejarah Sistem Operasi

Semua pasti berawal dari sejarah, apa Sejarah Sistem Operasi Komputer ?? dan bagaimana sejarah sistem operasi komputer berkembang. ini yang harus kita ulas sampai dalam. sebab tak kan ada cerita tanpa adanya sejarah. hehehe

dari wikipedia dan scrib, kita kutip sebagai berikut: